Asmadi Katakan Ini, Beberapa Jam Sebelum Dilantik Kepala Dispendikbud Singkawang

by -566 views
kepala dispendikbud kota singkawang asmadi

Singkawang Kota – Asmadi, S.Pd, M.Si., yang kini pejabat tetap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kota Singkawang, sebelum dilantik beberapa hari lalu sempat berbincang-bincang ringan dengan reaktifnews.com serta beberapa awak media lain di ruang kerjanya. Perbincangan bersama sosok yang menyenangkan, suka bercanda dan santai ini tidak jauh-jauh, yakni seputar pendidikan anak termasuk mindset positif memajukan dunia pendidikan di Kota Singkawang pada umumnya.

Ia mengatakan bahwa anak yang cerdas itu sudah barang tentu dambaan semua orang tua. Namun tidak semua orang tua dapat menjadikan putera puterinya menjadi cerdas sesuai dambaan. Ada orang tua yang menginginkan kecerdasan anaknya dengan memasukkan ke sekolah mulai PAUD, Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Raudhatul Athfal, Madrasah atau sekolah (SD/MI, SMP,MTs, dan SMA/MAN), anak anak yang tumbuh menjadi cerdas, sebaliknya ada juga yang tumbuh kurang cerdas.

“Menurut Ki Hajar Dewantara dalam bukunya Melejitkan Kecerdasan Anak Melalui Dongeng, untuk meningkatkan kecerdasan anak, harus diciptakan suasana pendidikan yang tepat dan baik, yaitu pendidikan dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih (kasih), asah (memahirkan) dan asuh (bimbingan). Jadi pertama sekali itu kasih atau asih, mulainya dari sini dulu dan jangan kebalik”, tutur Asmadi.

Lanjutnya, anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik ketika mendapatkan perlakuan dengan baik. Yakni mendapat perlakukan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dalam situasi yang nyaman dan damai. Ki Hajar Dewantara sang bapak pendidikan itu menganjurkan agar dalam pendidikan anak memperoleh sesuatu yang mendapat mencerdaskan pikiran, menguatkan hati dan meningkatkan keterampilan tangan.

“Tentu saja metode educate the head, the heart and the hand yang saya maksud ini yang mestinya kita terapkan di Singkawang khususnya. Jadi saya tekankan juga ini kepada rekan-rekan para guru kita”, katanya.

Asmadi juga menjeleskan, guru dan siapa pun kita sebagai orang tua hendaknya memperhatikan beberapa sinyalemen berikut. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan ia belajar menyesali diri. Termasuk jika anak dibesarkan dengan kekerasan, maka niscaya ia akan belajar untuk melawan.

“Sebaliknya jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Dan bahkan jika dibesarkan dengan sebaik-sebaik perlakuan, maka dia akan belajar keadilan. Termasuk juga jika ia dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan,” urainya.

Asmadi berharap, prinsip pendidikan di Kota Singkawang mestilah asah asih dan asuh. Bahkan prinsip-prinsip ini sangat penting untuk diterapkan kepada anak di usia emas mereka (the golden age). Masa keemasan tersebut barada pada rentang usia 0 smpai 6 tahun. Sementara menurut penelitian, kecerdasan seorang anak mencapai 50 persen pada usia 0 sampai 4 tahun, usia 8 tahun kecerdasannya meningkat sampai 80 persen, dan puncaknya 100 persen pada usia 18 tahun.

“The golden age adalah masa keemasan manusia, priode usia yang amat penting bagi anak, maka pendidikan pada rentang usia tersebut sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Ya, tentu untuk kemajuan bersama ini kita memang harus bersinergi,” tutupnya. (*/Topan/RN)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.