Penyakit Penyerta Perparah Gejala Covid-19

by -179 views
Juru Bicara Covid-19 Pemerintah.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito. (Dok/Foto: Satgas Covid-19/RRI.com)

REAKTIFNEWS.COM – Di tengah kasus Covid-19 yang terus meningkat, pemerintah meminta masyarakat untuk beraktivitas dengan penuh kewaspadaan. Terlebih , kepada masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, yang berpeluang mengalami perburukan kondisi apabila terpapar Covid-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan, ada beberapa faktor yang dapat memperparah kondisi seseorang apabila positif Covid-19.

“Yaitu faktor usia, riwayat vaksinasi seseorang serta riwayat komorbid atau penyakit penyerta,” kata Wiku dalam siaran pers yang diterima reaktifnews.com melalui RRI.co.id, Rabu (16/2/2022).

Tentang faktor risiko, umumnya akan menyebabkan sistem pembentukan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi menjadi kurang optimal. Salah satunya komorbid.

Kata Wiku, jika sudah terpapar, seseorang yang memiliki satu bahkan lebih penyakit penyerta, berisiko membutuhkan perawatan inap maupun perawatan intensif di rumah sakit. Hal tersebut akan membutuhkan ventilator akibat perkembangan gejala yang berat atau kritis.

“Dan ancaman kematian akan menjadi lebih besar,” imbuh Wiku.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) di tahun 2022, menyebut sejumlah jenis penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko keparahan Covid-19. Diantaranya kanker, gangguan ginjal, hati, paru-paru kronis, gangguan neurologis, diabetes melitus tipe 1 dan 2, gangguan jantung dan pembuluh darah, infeksi HIV, gangguan sistem kekebalan tubuh, obesitas, thalasemia dan beberapa gangguan kesehatan lainnya.

Bahkan berdasarkan studi, keparahan gejala pada berbagai jenis komorbid dapat berbeda-beda. Menurut studi Hijaz dkk tahun 2020, umumnya penderita hipertensi mengeluhkan terjadinya peradangan paru-paru atau pneumonia dibarengi dengan kenaikan tekanan darah.

Sementara penderita gangguan paru-paru kronik, mengeluhkan terjadinya kekurangan darah atau hiposemia parah dan gejala khas lainnya pada setiap komorbid.

Faktanya, secara nasional berdasarkan data yang diakses dari rumah sakit online 13 Februari 2022 lalu, tercatat mayoritas kasus positif yang meninggal dikontribusikan akibat komorbid diabetes melitus. Sementara 15% diantaranya, bahkan memiliki riwayat komorbid lebih dari satu jenisnya.

Sebagai tambahan, lanjut Prof Wiku, menurut studi di salah satu rumah sakit di India, lebih dari 90% pasien dengan lebih dari 2 jenis komorbid, meninggal dunia dibandingkan kasus positif yang hanya memiliki satu sampai dengan dua komorbid saja.

Selanjutnya, mayoritas kasus positif dengan gejala berat atau kritis, memiliki komorbid diabetes melitus dan hipertensi. 19% dari mayoritas tersebut bahkan memiliki lebih dari satu jenis penyakit.

Untuk itu, Satgas meminta masyarakat apabila menemukan seseorang dengan komorbid pada kelompok rentan disekitarnya, wajib melaporkan agar dapat ditangani secara Dini.

Sementara untuk penderita komorbid yang positif, dimohon secara aktif segera menghubungi tenaga kesehatan meski gejala yang dirasakan tergolong ringan demi perawatan yang lebih efektif yang cepat.

Sedangkan bagi penderita komorbid lainnya yang masih berada dalam kondisi sehat, diminta untuk mendapatkan vaksinasi baik dosis 1, 2 atau booster. Namun, vaksinasi harus dengan cermat mengkonsultasikan kesehatannya dengan fasilitas kesehatan sebelum divaksinasi. (*/KBRN,Pontianak/reaktifnews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.