Dedi Mulyadi: Kalau Daerah Mau Maju, Semua Harus Diberi Peran

by -19 views

REAKTIFNEWS.COM, Singkawang – Menanggapi wacana pembangunan Gerbang tiga arah Pontianak – Sambas – Bengkayang oleh Pemkot Singkawang, ditanggapi beragam oleh warga masyarakat Kota Singkawang. Salah satunya Dedi Mulyadi, yang juga mantan anggota DPRD Kota Singkawang 2009-2014.

“Kita sambut baik dan dukung bentuk pembangunan, apalagi tujuannya buat keindahan kota. Tapi sebelum bangun harus dikaji, telaah, apa saja urgensi serta manfaatnya bagi masyarakat Singkawang,” jelas Dedi, Kamis (24/02/2022).

Lanjutnya, wacana gerbang kota 3 (tiga) arah dengan nuansa ornamen masing-masing yakni Melayu-Tionghua dan Dayak yang akan dibangun Pemkot Singkawang tersebut sebaiknya kembali dipikirkan.

Menurut Dedi Mulyadi yang juga diamanahkan sebagai Panglima Bala Komando Pemuda Melayu Markas Wilayah Kota Singkawang, bahwa Kota Singkawang dibangun oleh masyarakat majemuk dengan segala aktifitas dan kontribusi pembangunan dari berbagai lapisan masyarakat.

“Artinya bahwa kontribusi pembangunan terhadap kota Singkawang selama ini bukan hanya dari tiga etnis yang ada tersebut. Ya, bahwa Singkawang dengan kepadatan penduduk dan pemukiman serta sentra-sentra ekonomi dan pembangunan dimasyarakatnya bisa berkembang karena adanya peran dari multi etnis dan kemajemukan. Jelas kita Bhineka Tunggal Ika yang terukir erat dicakar burung garuda,” terangnya.

Berbagai jenis suku dan bangsa, ada Bugis, Jawa, Madura Padang, Sunda, Batak, Tambi, Ambon dan lain-lain. Nah suku-suku dan bangsa tersebutlah sebut Dedi turut hadir dan ikut membangun Kota Singkawang selama berpuluh tahun lamanya hingga saat ini.

“Jadi kami bukan menolak. Namun sebuah kebijakan pembangunan untuk menjaga toleransi dan kemajemukan yang ada, makanya saran kami cobalah untuk dibangun tugu atau gerbang kota yang monumental yang bersifat kejayaan atau cerminan seluruh etnis, suku dan bangsa yang ada,” terangnya.

Sekali lagi pihaknya mohon, kepada segala unsur pemerintahan dalam memberikan gagas pembangunan janganlah membentuk sebuah polarisasi kesukuan, lupakan hal itu, karena kita sudah sangat nyaman hidup berdampingan selama ini, jangan lagi mengkotak-kotakkan, akan menimbulkan kecemburuan sosial.

“Dengan adanya perbedaan beraneka ragam ini, masyarakat bangsa jangan sampai terkotak-kotak dan jangan lupa bhineka tunggal ika,” ujar Dedi.

Ditambahkan Dedi, dalam trilogi persaudaraan dikenal dengan nama ukhuwah wathaniyah yang bermakna persaudaraan sebangsa. Persaudaraan kebangsaan harus didahulukan, mengingat hal ini sejalan dengan cita-cita para pendahulu bangsa yang ingin mempersatukan bangsa Indonesia.

Pemerintah juga harus mampu merajut kebersamaan secara adil kepada seluruh rakyatnya. Ini dimaksudkan agar jangan ada pihak merasa dianaktirikan dan luput dari perhatian yang nantinya berujung pada tindak radikal dan terorisme. “Kalau begitu nanti sangat merugikan dan mengerikan dan berpotensi memecah belah bangsa. Saatnya kita harus bijak, janganlah sampai garuda menagis lagi dan lagi,” tutupnya. (*/RN)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.