Waspada, Post Power Syndrome

by -224 views
Ilustrasi post power syndrome.
Ilustrasi: Waspada, post power syndrome. (*/Istimewa)

REAKTIFNEWS.COM – Pernahkah Anda merasa kecewa, bingung, putus asa atau khawatir yang berlebih ketika memutuskan untuk berhenti bekerja? Kalau jawabannya iya, Anda mungkin mengalami post power syndrome. Demikian urai Citra Hanwaring Puri, S.Psi, Psikolog.

Post power syndrome adalah suatu kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan yang diikuti dengan menurunnya harga diri. “Power” pada kata post power syndrome bukan diartikan sebagai kekuasaan maupun pekerjaan. Melainkan dikonotasikan sebagai sosok yang tadinya aktif, banyak kegiatan, mendadak hilang semua sehingga timbul ketidaknyamanan.

Jadi, orang-orang yang mengalami post power syndrome adalah orang-orang yang tidak bisa menerima perubahan yang terjadi, sebenarnya. Dan perubahan yang tidak bisa dia terima itu adalah perubahan yang berkaitan dengan hilangnya aktivitas, hilangnya kekuasaan, hilangnya harta, dan sebagainya.

Menjalani masa pensiun misalnya. Ditanggapi orang dengan berbagai cara, ada yang merasa gembira karena terbebas dari pekerjaan yang selama ini harus selalu dipertanggungjawabkan, namun tidak jarang banyak juga yang merasa kebingungan akan apa yang akan dikerjakan setelah pensiun.

Masa pensiun sering ditanggapi dengan perasaan yang negatif, tidak menyenangkan bahkan dipandang sebagai masa yang menakutkan. Oleh karena itu akan terkena gejala post power syndrome yaitu sindrom dari berakhirnya suatu jabatan atau kekuasaan dimana yang mengalaminya menjadi tidak bisa berpikir realistis, tidak bisa menerima kenyataan, bahwa sekarang sudah bukan pejabat lagi, bukan pegawai lagi dan sudah pensiun (Suadirman, 2001).

Lanjut Citra, sindrom ini biasanya muncul pasca pensiun, PHK, menurunnya ketenaran seorang artis atau seseorang yang memutuskan berhenti bekerja saat ia tengah berada pada posisi atau jabatan yang cukup penting.

Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap sindrom ini diantaranya adalah mereka yang sangat bangga pada jabatannya, senang dihormati, senang mengatur orang lain dan selalu menuntut agar keinginan atau perintahnya dituruti.

Sehingga ketika masa kekuasaan itu berakhir, muncullah gejala post power syndrome yang merupakan tanda kurang berhasilnya seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kondisi barunya. Meskipun bukan tergolong penyakit kejiwaan yang serius, post power syndrome perlu segera diatasi. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan masalah kesehatan seperti darah tinggi atau depresi di kemudian hari.

Pensiun atau purnabakti misalnya, akan dialami oleh siapapun yang usianya melebihi batas yang telah ditentukan atau mereka yang sengaja menghentikan kegiatan rutinitasnya. Masa itu akan datang, masa dimana seseorang akan mulai kehilangan teman kerja, teman beraktifitas, termasuk kehilangan kekuasaan dan kewenangan. Hal itu dapat menyebabkan post power syndrom.

Kembali ditegaskan Citra, post power syndrome merupakan sindrom pasca seseorang berhenti dari dunia kerja atau dari kekuasaannya. Post power syndrome biasanya muncul setelah seseorang turun dari jabatan atau kekuasaannya yang disertai perasaan menurunnya harga diri dikarenakan dia merasa tidak dihormati lagi dan lebih mudah tersinggung serta curiga.

Pada umumnya, orang yang mengalami post power syndrome tidak menyadari akan kondisinya. Gejala yang muncul juga bisa bermacam-macam baik gejala fisik maupun psikis. Gejala post power syndrome akan mudah muncul jika seseorang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tidak dimintai pendapatnya. Ini akan lebih mudah terjadi pada orang yang sebelumnya memiliki jabatan tinggi atau penting. (*/RN)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.