Bahagia, Tidak Harus Jadi Pejabat dan Bergelimang Harta

by -278 views
gus baha dan quraish sihab
Gus Baha ketawa bersama M Quraish Shihab. (Foto: Istimewa/ net)

REAKTIFNEWS.COM – Beberapa orang mempunyai definisinya sendiri soal bahagia. Beberapa orang diantaranya merasa bahagia karena berpikir, berbicara dan menulis secara positif serta menghemat waktu kemudian merenungkan beberapa hal untuk ia syukuri.

Namun ada beberapa tipe orang juga justru merasa bahagia saat menjadi pejabat negara, memiliki kendaraan bagus atau pun bergelimang harta.

Apapun itu, tiap manusia memang bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri sesuai kondisi masing-masing. Tentu saja bahagia yang dimaksud di sini tanpa harus mengganggu orang lain.

Sementara itu, menurut pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3iA) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengatakan bahwa definisi bahagia sangatlah luas dan tidak sempit berdasarkan pandangan satu kelompok.

“Selama ini kita sering salah membuat definisi bahagia. Bahagia itu ketika jadi dosen, jadi rektor, jadi menteri, sehingga orang itu tidak sempat bahagia dengan kesehariannya. Padahal bahagia tidak harus begitu,” katanya seperti dikutip dari akun Youtube Universitas Gadjah Mada, Kamis (7/3/2024).

Gus Baha menjelaskan, bahagia adalah milik semua makhluk Allah. Tidak penting latar belakang dan status sosialnya. Cara bahagia pun ada banyak cara. Orang kecil juga bisa bahagia. Pagi-pagi bisa santai. Mau ngopi dan istirahat sesuka hati.

“Bahagia seperti ini jangan ditolak, biarkan saja. Jadi itu penting mengelola kebahagiaan. Bahagia itu harus dilatih,” imbuhnya.

Bagi Gus Baha, bahagia tidak harus menjadi pejabat negara, memiliki kendaraan bagus atau pun bergelimang harta. Sebab setiap manusia bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri sesuai kondisi masing-masing, tanpa harus mengganggu orang lain.

“Sementara jadi pejabat pagi-pagi harus ke kantor, disuruh ini dan itu. Jadi menteri disuruh-suruh presiden. Kadang tidak bisa istirahat dan ngopi,” tutur salah seorang Rais Syuriah PBNU itu.

Ulama asal Rembang, Jawa Tengah ini menambahkan bahwa bahagia versi kekasih Allah adalah bisa melakukan sujud dan selalu dekat dengan Allah. Meskipun kehidupannya sederhana, asal bisa beribadah dan bebas sujud kepada Allah, maka hal itu sudah sangat bahagia.

Namun, Gus Baha menegaskan jika ia tidak memaksa seseorang untuk mengikuti model waliyullah. Semua tergantung kemampuan masing-masing individu sehingga tidak terbebani.

“Syukur-syukur bisa bahagia seperti waliyullah, yaitu bahagia ketika sujud kepada Allah. Kalau tidak bisa, ya latihan yang mudah-mudah saja,” tutupnya diiringi gelak tawa. (yud/top)

No More Posts Available.

No more pages to load.