Kelebihan Membaca Buku Fisik Dibanding Digital

by -979 views
sampul buku think climate indonesia
Foto: Sampul buku Think Climate Indonesia. (Tempo Institute)

REAKTIFNEWS.COM

Melansir data dari UNESCO, perbandingan antara jumlah perpustakaan dan penduduk di Indonesia masih rendah, dengan rasio hanya 0,33 per 100.000 penduduk pada tahun 2019.

Seiring dengan kemajuan zaman, teknologi komunikasi dan media baca juga mengalami perkembangan pesat. Pada masa lalu, membaca buku sering kali terkait dengan buku fisik yang dicetak, tetapi saat ini, membaca buku digital telah menjadi tren utama, terutama melalui penggunaan gadget seperti Kindle.

Perubahan terjadi dengan munculnya buku digital, di mana isi buku dapat dibaca melalui format file PDF di berbagai gadget. Kemajuan teknologi ini memberikan kemudahan, terutama dalam hal tidak perlu membawa buku fisik yang lebih berat dan memakan ruang.

Meskipun buku digital memiliki keuntungan modernnya, membaca buku fisik memiliki beberapa kelebihan yang tidak dapat ditemukan saat membaca secara digital melalui layar.

Kelebihan membaca buku fisik:

1.Pengalaman Sensori yang Lebih Nyata
Buku fisik memberikan pengalaman sensori yang lebih nyata karena pembaca dapat merasakan halaman, mencium aroma kertas, dan menyentuh fisik buku. Ini dapat menciptakan pengalaman membaca yang lebih kaya dan mendalam.

2. Mengurangi Paparan Radiasi Layar
Buku fisik tidak menggunakan layar elektronik seperti buku digital, yang berarti membaca buku fisik dapat mengurangi paparan radiasi dari layar. Beberapa orang menganggap paparan berlebihan terhadap layar sebagai potensi risiko kesehatan, terutama jika digunakan untuk jangka waktu yang lama.

3. Tidak Memerlukan Daya dan Teknologi
Buku fisik tidak memerlukan daya atau teknologi untuk dibaca. Mereka tidak bergantung pada baterai atau perangkat elektronik, sehingga tidak ada kekhawatiran tentang kehabisan daya atau gangguan teknis.

4. Tidak Ada Gangguan dari Pemberitahuan atau Aplikasi Lain
Saat membaca buku fisik, tidak ada risiko terganggu oleh pemberitahuan atau aplikasi lain yang mungkin muncul pada perangkat digital. Ini memungkinkan pembaca untuk fokus sepenuhnya pada teks dan mengurangi potensi gangguan.

5. Mempermudah Anotasi Fisik
Beberapa orang lebih suka membuat catatan atau mencoret-coret langsung pada buku fisik. Meskipun ada kemungkinan untuk melakukan hal yang serupa pada buku digital, beberapa orang merasa lebih mudah dan alami untuk melakukannya pada buku fisik.

6. Estetika dan Koleksi
Buku fisik sering dianggap sebagai objek seni atau koleksi yang indah. Mereka dapat menambah estetika ruang baca dan menjadi bagian dari koleksi pribadi.

Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa preferensi membaca bersifat subjektif, dan keputusan antara buku fisik dan digital sangat tergantung pada preferensi pribadi masing-masing pembaca. Beberapa orang mungkin menemukan keuntungan di kedua jenis format ini, tergantung pada situasi dan kebutuhan masing-masing orang.

Buku Think Climate Indonesia, Dipastikan Isinya “Daging” Semua

Buku berjudul Think Climate Indonesia memiliki tebal 98 halaman yang ditulis oleh Elik Susanto, Yudono Yanuar, dkk ini sangat direkomendasikan untuk dimiliki. Buku “Think Climate Indonesia” berdimensi 21cm x 29cm, memang belum diketahui pasti diluncurkan kapan secara resmi, karena masih dalam pengajuan nomor kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik atau International Standard Book Number (ISBN).

Sinopsis Buku Think Climate Indonesia:

Sebuah studi yang terbit di jurnal Frontiers in Climate pada 8 Februari 2022 mengungkapkan bahwa kebakaran hutan di Indonesia menyumbang 7% dari total emisi gas rumah kaca (GRK) global pada tahun 2019 dan 2020. Pada 2022, Indonesia berada di urutan ke tujuh dunia penghasil emisi gas rumah kaca dengan angka 1,24 miliar Gt CO2e.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian PUPR, perubahan lahan dan hutan menjadi penyumbang terbesar emisi Indonesia, yaitu 36 persen disusul oleh kebakaran lahan gambut 26 persen, dan energi 22 persen.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat angka penghilangan hutan sangat tinggi yakni 104 ribu hektar dalam setahun. Pada 2022, hutan Indonesia tercatat 96 juta ha atau 51,2 persen dari total daratan, yang 88,3 juta ha berada di dalam kawasan hutan negara. Deforestasi ini menjadi penyumbang utama terjadinya perubahan iklim.

Sebagai salah satu sumbangan untuk mengurangi dampak perubahan iklim, International Development Research Centre (IDRC) bersama Oak Foundation menggandeng KALEKA, Kemitraan, Kota Kita, PATTIRO, dan WRI Indonesia menjalankan proyek Think Climate Indonesia untuk melakukan aksi iklim yang efektif dan bermanfaat sebagai masukan bagi pembuat kebijakan. (top/RN/tim)

No More Posts Available.

No more pages to load.