Pj Gubernur Harisson Sebut Kalbar Provinsi Terbanyak Penderita Thalasemia

by -703 views
Ilustrasi penyakit Thalasemia.
Ilustrasi penyakit Thalasemia menjadi penyakit yang banyak ditemui di Kalbar.

REAKTIFNEWS.COM

Menyadari bahaya dan upaya pencegahan dini penyakit Thalasemia, salah satu strateginya yakni dengan memberikan pemahaman akan pentingnya jenis jenis penyakit tersebut.

Seperti diketahui, Thalasemia merupakan penyakit kelainan sel darah merah, yang dapat diturunkan secara genetik dari orang tua ke anak. Dimana, disebabkan terjadi kerusakan sel darah merah, maka si penderita acapkali merasakan gejala kurang darah atau anemia.

“Hal itu, menyebabkan penyandang Thalasemia harus melakukan transfusi darah secara rutin seumur hidup. Selain itu, penderita Thalasemia juga harus mengonsumsi pil pengurang zat besi dalam darah,” ungkap Pj. Gubernur Kalbar dr. Harisson, M.Kes, Jum’at (29/9/2023) dikutip dari KBRN Pontianak.

Harisson menerangkan, berdasarkan penelitian bahwa 3,5 persen dari jumlah populasi merupakan pembawa sifat Thalassemia.

“Jadi dari 100 jumlah pelajar misalnya, ada 3-5 orang yang membawa sifat dari Thalassemia. Nah, misalkan nanti ada yang melanjutkan kuliah kemudian menikah dengan pacarnya yang penderita Thalassemia maka anaknya juga akan menderita Thalasemia,” kata Harisson.

Bahkan ia menjelaskan, beberapa peneliti mengungkapkan di Indonesia ini setiap tahun sebanyak 2500 anak yang dilahirkan menderita Thalasemia Mayor.

Untuk di Provinsi Kalimantan Barat sendiri termasuk Provinsi penyandang Thalasemia terbanyak, lebih kurang dari 224 orang yang tersebar di seluruh Kabupaten / Kota dan 19 orang diantaranya telah meninggal dunia.

Berikut ciri-ciri utama yang umum ditemukan pada penderita penyakit thalasemia dari berbagai sumber:

1. Anemia

Hampir seluruh pengidap thalasemia, terutama yang berada di tingkat sedang dan parah, akan menunjukkan ciri-ciri yang menyerupai anemia. Tingkat keparahan anemia pun bermacam-macam, mulai dari ringan, sedang, hingga berat.

Biasanya, orang-orang yang menderita thalasemia minor hanya akan mengalami anemia ringan. Sementara itu, orang-orang dengan thalasemia mayor akan menunjukkan ciri-ciri anemia yang lebih berat. Tanda-tanda tersebut biasanya mulai terlihat pada saat bayi memasuki usia 2 tahun.

Berikut adalah gejala-gejala anemia parah yang akan dirasakan orang thalasemia berat atau sedang:

  • Kulit dan wajah terlihat pucat
  • Pusing atau sakit kepala
  • Nafsu makan menurun
  • Tubuh sering terasa lelah
  • Sesak napas
  • Urine berwarna gelap
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Kuku terlihat rapuh
  • Peradangan atau sariawan di lidah

2. Terlalu banyak zat besi di dalam tubuh

Ciri-ciri lain yang umum ditemukan pada penderita penyakit thalasemia adalah tingginya kadar zat besi di dalam tubuh. Kondisi ini terjadi karena banyaknya sel darah merah yang pecah dan tubuh yang berusaha meningkatkan jumlah besi yang diserap usus. Belum lagi ada efek tambahan besi yang biasanya diterima melalui proses transfusi darah untuk mengatasi thalasemia.

Kelebihan zat besi di dalam tubuh dapat memengaruhi kesehatan limpa, jantung, dan hati, serta mengakibatkan gejala-gejala berikut ini pada orang thalasemia.

  • Kelelahan luar biasa
  • Nyeri sendi
  • Sakit perut
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Menstruasi tidak teratur
  • Kadar gula darah tinggi
  • Jaundice (kulit dan bagian putih bola mata menguning)

Bila tidak segera diatasi, kondisi ini dapat mengakibatkan penyakit lain, seperti gagal jantung, penyakit hati, hingga diabetes.

3. Masalah tulang

Masalah yang muncul pada tulang juga termasuk salah satu ciri-ciri penyakit thalasemia. Kondisi ini umumnya disebabkan karena sumsum tulang berusaha memproduksi sel darah merah lebih banyak.

Oleh karena itu, terkadang penderita thalasemia memiliki beberapa bagian tulang dengan bentuk yang tidak wajar. Ciri-ciri ini bisa dilihat di tulang wajah dan tengkorak.

4. Pertumbuhan terganggu

Ciri-ciri lain yang juga banyak ditemui pada pengidap penyakit thalasemia adalah terganggunya tumbuh kembang. Penderita thalasemia cenderung memiliki postur tubuh yang pendek.

Kondisi ini disebabkan oleh anemia berat, terutama pada pasien yang sudah berada di tingkat parah. Hal ini dijelaskan dalam sebuah artikel dari Cochrane Database of Systematic Reviews.

Penumpukan zat besi berlebih yang telah disebutkan sebelumnya juga dapat memengaruhi organ-organ vital tubuh, seperti hati, jantung, dan kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari adalah organ yang memproduksi hormon pertumbuhan.

Terganggungnya kelenjar pituitari dapat menyebabkan pertumbuhan pengidap thalasemia pun terhambat. (*/)

No More Posts Available.

No more pages to load.