Selain Stunting, Ini Deretan Masalah Gizi yang Kerap Dialami Balita di Indonesia

by -1,159 views
Data masalah gizi kemenkes.
Masalah gizi yang dialami Balita Indonesia menurut SSGI (2019-2022). (Dok/Foto: Kemenkes/ RN)

Singkawang, Reaktifnews.com — Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan, terdapat empat permasalahan gizi balita di Indonesia. Di antaranya stunting, wasting, underweight, dan overweight.

Stunting atau ukuran badan pendek merupakan salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian pemerintah dan publik karena prevalensinya kini masih cukup tinggi, mencapai 21,6% pada 2022. Angka tersebut melebihi ambang batas yang ditetapkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%. Ini mengindikasikan bahwa stunting di Indonesia masih tergolong kronis.

Meski demikian, prevalensi 2022 telah turun 2,8 poin dari 2021 yang sebesar 24,4%. Bahkan dibandingkan 2019, prevalensi balita stunting Indonesia telah menurun sebanyak 6,1 poin, yang saat itu mencapai 27,7%.

Permasalahan gizi lainnya, wasting atau kurus. Menurut SSGI 2022, prevalensi balita wasting di Indonesia naik 0,6 poin dari 7,1% menjadi 7,7% pada tahun lalu.

Kemudian, prevalensi balita underweight atau gizi kurang sebesar 17,1% pada 2022 atau naik 0,1 poin dari tahun sebelumnya. Di sisi lain, prevalensi balita overweight atau kegemukan badan sebesar 3,5% pada 2022 atau turun 0,3 poin dari tahun sebelumnya.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi mengatakan, gangguan pertumbuhan pada anak dimulai dengan terjadinya weight faltering atau berat badan tidak naik sesuai standar.

“Anak-anak yang weight faltering apabila dibiarkan maka bisa menjadi underweight dan berlanjut menjadi wasting. Ketiga kondisi tersebut bila terjadi berkepanjangan maka akan menjadi stunting,” ujar Endang, dikutip dari laman SehatNegeriku, Jumat (27/1/2023).

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melakukan pemberian makanan tambahan untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia. Endang mengatakan, pemerintah akan beralih dari pemberian makanan tambahan berupa biskuit menjadi makanan lokal.

Selain pemberian makanan tambahan dengan makanan lokal, menurut Endang, hal yang paling penting adalah pemberian edukasi kepada ibu tentang cara pemberian makanan yang baik untuk anak. Hal ini bertujuan untuk mengejar target pemerintah terkait penurunan angka stunting hingga 14% pada 2024.

Endang mengatakan, sejumlah faktor yang mempengaruhi adanya penurunan stunting antara lain inisiasi menyusui dini (IMD), pemberian ASI eksklusif, pemberian protein hewani, dan konseling gizi. “Pencegahan stunting jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan stunting,” ujar Endang. (RN/net/Kemenkes)

Editor|Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.